Rabu, 18 Februari 2015

Pemuda Ini Raup Omzet Ratusan Juta dari si Comel

Pemuda Ini Raup Omzet Ratusan Juta dari si Comel Oleh : Siti Nuraisyah Dewi, Arie Dwi Budiawati

Modal awalnya Rp20 juta. Sempat ditentang sang ibu.


Setiap orang bisa menjadi wirausahawan tanpa melihat latar belakang kehidupannya. Buktinya, seorang sarjana sistem komputer, Lucky Mandala Putra, mampu mengumpulkan lebih dari Rp100 juta per bulan dengan berjualan roti bakar.

Ditulis pada Selasa 17 Februari 2015, pendiri usaha "Roti Comel" ini menceritakan awal mulanya mendirikan bisnis roti bakar.

Pada tahun 2013, dia membuka warung roti bakar. Setelah melihat contoh-contoh bisnis roti bakar, Lucky heran mengapa roti bakar yang menurutnya standar, tapi bisa berkembang luas.

Tercetuslah satu ide: roti bakar itu menggunakan salah satu merek cokelat ternama. Setelah itu, baru terlintas nama usahanya.

"Apa, ya, nama yang gampang diingat dan disebut: Cokelat Meleleh, akhirnya namanya Roti Comel (Cokelat Meleleh)," kata dia, kepadaVIVA.co.id di daerah Pancoran, Jakarta.

Awalnya ditentang ibu

Lucky mengatakan,  ide menjadi seorang entrepreneur sempat ditentang ibunya. Ibunya meminta ia bekerja terlebih dahulu untuk mengumpulkan modal. Lulusan STT Telkom ini pun tak ingin membantah sang ibu. "Karena ibu yang menyuruh, saya tidak mungkin menolak," kata dia.

Dia pun sempat bekerja di bagian sales IT di salah satu perusahaan untuk menuruti permintaan ibunya, tapi hanya bisa bertahan selama enam bulan. Di bulan keempat, surat pengunduran diri disampaikan dan pada bulan keenam ia tidak bekerja lagi.

"Di tengah jalan saya tidak sanggup. Tidak cocok kalau kerja sama orang. Kalau kerja sendiri, ketika dapat masalah, bisa menyelesaikan sendiri. Kalau kerja sama orang, ruang bebasnya terbatas," kata Lucky.

Lucky akhirnya mendapatkan dukungan dari sang ibunda. Dengan modal Rp20 juta,  Rp12 juta dari kantongnya sendiri dan Rp8 juta berasal dari bantuan orang tua dan pamannya, anak kedua dari tiga bersaudara ini memulai usaha roti bakarnya. Awalnya, lokasi berjualan bukan di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.

"Pertama kali buka tanggal 6 September 2013 di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Alhamdulillah di sana agak ramai, lalu pindah ke sini (Pancoran)," kata dia.

Lucky pun memilih konsep warung tenda untuk roti bakarnya, sebab konsep ini memberikan kesan harga makanan yang ditawarkan cukup terjangkau.

Modal Rp20 juta pun digunakan untuk mendapatkan tenda, meja, alat-alat berjualan, dan bahan makanan. Kebetulan, kata dia, ada orang yang menawarinya berjualan di lokasi yang sama.

"Orang yang jualan roti bakar di Salemba nggak melanjutkan usahanya. Saya yang ngelanjutin. Jadi, saya pakai tempat orang," kata dia.

Awal mula berjualan, kata Lucky, Roti Comel hanya laku 16 porsi roti per hari. Paling banter, 20-25 porsi roti comel.

"Seiring jalannya usaha, penjualannya naik sedikit-sedikit. Kalau sekarang, kadang bisa 300-350 porsi roti comel," kata dia.
Lucky menambahkan, usahanya didukung keluarga dekat dan teman-temannya, terutama teman kuliah. Dukungan dari teman-temannya, kata dia, berupa "kunjungan" ke warung Roti Comel dan membuat warung seolah-olah ramai dan meramaikan di media sosial.

"Mereka sering promosi lewat medsos. Kalau saya, saya jarang promosi di medsos. Karena foto-foto dan sering check-in di medsos, banyak yang datang. Mereka penasaran. Bahkan, sampai dikira warung ini bukan punya saya," kenang dia.

Kini, lanjut Lucky, modal usahanya merangkak naik. Untuk pindah ke daerah Pancoran, penyuka makan ini merogoh kocek yang cukup dalam: Rp150 juta. Uang ini  untuk menyewa tempat dan membeli alat-alat baru, seperti tambahan piring, mangkuk, dan tikar. Konsep warung pun dipertahankan.

Mengapa memilih Pancoran?

"Letaknya strategis. Ini, kan, akses utama orang ke Kalibata, Depok, dan Bogor," kata dia.

Roti Comel, kata Lucky, menawarkan menu-menu roti bakar sampai paket nasi (bento). Misalnya, roti comel--roti dengan cokelat dairy milk meleleh dan disajikan dengan susu kental manis vanila dan keju parut, dibanderol dengan harga Rp14 ribu per porsi.

Lalu, roti bakar isi durian dan disajikan dengan keju dan susu kental manis Rp17 ribu per porsi, dan roti cetar--roti bakar isi cokelat dairy milk meleleh dengan es krim dan taburan meses, cokelat butiran, dan irisan wafer cokelat Rp20 ribu per porsi. Roti Comel juga menyajikan roti bakar biasa, seperti isi cokelat, kacang, stroberi, dan bluberi. Harganya mulai dari Rp7-12 ribu per porsi.

Tak hanya roti

Tak ingin roti? Warung ini juga menawarkan menu mie instan yang dihargai Rp6-17 ribu, camilan seperti sosis, otak-otak, kentang goreng, dan siomai udang seharga Rp10-17 ribu per porsi.

Lalu, ada paket nasi bento shrimp roll dan spicy chicken seharga Rp18 ribu per porsi. Minumannya, seperti teh tawar, kopi susu, dan teh tarik dihargai Rp2-10 ribu per gelas.

"Mengapa ada bento? Beberapa orang bertanya apakah ada menu nasi. Kalau mie instan, standar. Ya, sudah, sekalian saya beri menu nasi dan yang simple pilihannya, ya, bento ini," kata dia.

Menu andalan di warungnya, sejauh ini masih roti comel, roti es krim, roti bakar durian, dan roti bakar cetar. Untuk roti comel, kalau penjualan di hari biasa, bisa habis 200-250 porsi, tapi kalau weekend, penjualannya bisa 300-350 porsi.

Per bulannya, Roti Comel menghabiskan 900 bungkus roti, 70 kg cokelat dairy milk batangan, 960 kaleng susu cair, dan 90 kg keju cheddar. Per harinya, usaha ini menghabiskan 2 buah durian dan 8 liter es krim. Cokelat tabur yang dihabiskan per hari sebanyak 3-4 bungkus. "Kalau selai, belum tentu sehari habis satu jar," kata dia.
Bahan baku

Lalu, bagaimana caranya mendapatkan bahan baku itu? Lucky mengatakan, sudah ada pemasok untuk keperluan Roti Comel.

Roti bakarnya merupakan roti produk rumahan dan ada pemasoknya. Keju dan susu kaleng juga ada pemasoknya yang berupa second hand. "Kalau cokelat dairy milk, saya beli langsung," kata dia.

Dengan harga yang terjangkau, Lucky pun membidik kalangan remaja, yaitu pelajar menengah atas sampai mahasiswa.

"Saya melihat pasarnya yang gampang. Mereka ingin cari hal-hal baru. Kalau puas, mereka promosikan kepada teman-temannya. Harganya harga mahasiswa," ujar pria kelahiran tahun 1990 itu.

Lantas, berapa keuntungannya saat ini? Penyuka kuliner ini pun membeberkan omzetnya per bulan: Rp120-125 juta. "Alhamdulillah sudah BEP (break event point/balik modal). Baru bulan kemarin," kata dia.

Lucky pun melirik jejaring sosial seperti Twitter, untuk promosi Roti Comel. Memang, diakuinya, kekuatan media sosial cukup besar karena paling murah dan efektif.

"Kalau nge-print, orang sudah capek-capek mencetak selebaran, dikasih ke orang lain, dilihat, lalu buang. Kalau media sosial itu modalnya handphone dan paket data. Saya juga modalnya hanya paket data (untuk promosi)," kata dia.

Meskipun demikian, bukan berarti usahanya lancar bak jalan tol. Lucky mengaku, bisnis roti bakarnya pun tak luput dari kendala-kendala. Kendala utama, ya, modal, dan sumber daya manusia (SDM).

"Kendala awal banget itu SDM dan modal. Kalau modal, ya, uang. Kadang lagi perlu tambah meja, tapi tidak ada uang. Lalu, cari orang yang mau kerja sama loyal susah. Dari awal saya bongkar pasang personel," kata Lucky.

Awal mulai berusaha, baru ada dua orang yang menjadi karyawan Roti Comel, sekarang jumlahnya mencapai tujuh belas orang. Lucky pun menyediakan fasilitas kepada belasan karyawan Roti Comel, yaitu kamar kos dan makan. "Itu fasilitas dan tidak potong gaji," kata dia.
Selain modal dan tenaga kerja, Lucky mengeluhkan waktu berkumpul dengan keluarga pun menjadi berkurang. Misalnya, dia acapkali pulang malam dan mendapati ibunya sudah tidur. Waktu berkumpul dengan teman-teman pun berkurang.
Hal lain yang tak pernah dijalani dan harus dilakukannya adalah multitasking. Dia harus menjadi manajer, tapi di saat bersamaan harus menjadi bagian human resource development (HRD), dan keuangan. Pusingnya di situ, aku Lucky, karena semua hal diurus sendirian. "Tapi bisa atur waktu sendiri. Itu sukanya," kata dia.

Lucky berharap bisa "membesarkan" Roti Comel di kawasan Pancoran, seperti membuat tempatnya menjadi tingkat karena kerap kekurangan tempat ketika tengah ramai pengunjung.

Sekadar informasi, Roti Comel belum punya cabang dan baru ada di lokasi Pancoran. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan untuk membuka cabang di tempat lain.

"Ada keinginan buka di mana-mana. Cuma, itu nggak tahu, ya. Rencananya, sih, saya ingin ke Bali. Kemarin saya cek-cek daerah sana," kata dia.

Kalau ingin mencicipi lezatnya seporsi roti comel, Anda bisa berkunjung ke Jalan Raya Pasar Minggu No. 29 B, Pancoran, Jakarta Selatan.

Atau Anda bisa mengontak Roti Comel lewat akun Twitter @roticomel dan akun Instagramnya roticomel.

Jika ingin memesan roti ini untuk katering, Anda juga bisa mengontak Lucky lewat surat elektronik roti.comel@gmail.com.

"Biasanya langsung ketemuan kalau mau pesan. Saya terima pesanan, tapi kalau kami sanggup. Biasanya ada 50 porsi," kata dia. (umi)

(Sumber dari web Viva.co.id)