Rabu, 18 Februari 2015

Kisah Sukses Pengusaha Bebek Goreng



Kisah Sukses Pengusaha Bebek Goreng 

Oleh : Rimba Laut

Semua pelanggannya juga bertahan hingga belasan tahun.

Hari sudah malam dan hujan pun mengguyur kota Jakarta, namun tak menyurutkan jumlah pengunjung yang datang untuk menikmati beragam menu andalan di rumah makan ini.
Bahkan, kepadatan pengunjung terus mengalir menyibukkan pemilik rumah makan dan belasan karyawannya dalam melayani setiap pelanggan dengan tetap tersenyum ramah.

Hingga sekitar 15 menit kemudian, dengan waktu yang sedikit longgar, VIVA.co.id,akhirnya berkesempatan untuk wawancarai pemilik dari rumah makan 'Bebek Goreng Pak Joko Putra'. Malam itu, Ibu Ruqoiyah, sang pemilik dengan busana muslimnya tetap menyambut dengan hangat.
Obrolan demi obrolan pun mengalir dengan santai. Tak disangka, rumah makan yang sudah dirintisnya bersama suami sejak 20 April 1993, sangat digandrungi berbagai lapisan profesi dari masyarakat luas.

Mulai dari karyawan, pengusaha, pejabat sampai kalangan selebritas atau artis nasional sering datang ke rumah makan ini. "Fauzi Bowo, Dewi Persik, Ashanti, Anang Hermansyah, Adji pangestu, Ibnu Jamil, Nirina Zubir, Adji Notonegoro, Guruh Soekarnoputra dan masih banyak lagi biasa ke sini," ujar Ruqoiyah, saat ditemui, belum lama ini.

Seperti dengan namanya, rumah makan ini memang menyajikan menu favorit, yaitu bebek goreng. Meskipun, masih ada menu andalan lainnya, sebut saja ayam, lele, ikan mas, hingga baru-baru ini ada menu baru lainnya, yaitu burung dara dan burung puyuh.
"Semuanya memang digoreng. Dulu pernah coba dibakar, tetapi sedikit peminatnya, sehingga sampai sekarang kita tetap konsisten dengan menu digoreng. Tetapi, paling digemari memang bebek goreng, sambal, dan nasi uduknya," tutur wanita, yang bersyukur bisa berangkat menunaikan ibadah haji bersama suami dari usahanya tersebut.

Ruqoiyah mengakui, selama 22 tahun menjalani usahanya, dia sudah memiliki banyak pelanggan tetap. Hebatnya, semua pelanggannya juga bertahan hingga belasan tahun, sehingga dia pun sudah mengenali tipe pesanan dari si pelanggan setianya.

"Misalnya, kalau Adji Notonegoro selalu pesan, kalau sambalnya minta diulek dan nggak pakai tomat. Sedangkan Dewi Persik, selalu di mobil. Jadi, yang turun adalah asistennya untuk bungkisin. Semuanya pada pesan bebek goreng, sambal, dan nasi uduk," tuturnya.


Awal merintis
Ibu dari dua anak ini pun menceritakan, pertama kali membuka usahanya justru dari ayam dan lele, atau pecel ayam dan pecel lele. Hingga, dia mulai berpikir untuk melakukan terobosan yang bisa dikatakan sangat berani, yakni dagang daging bebek goreng.

"Waktu itu, di Jakarta belum ada yang dagang bebek goreng. Yang datang makan saat itu juga banyak tanya, enak nggak daging bebek, atau amis tidak dagingnya. Tetapi, dari Lamongan, Jawa Timur ke Jakarta, setelah tiga bulan dagang lele dan ayam, maka saya dan suami beranikan diri saja dagang bebek goreng," katanya.

Tekad dan doanya pun mulai memberikan secercah harapan. Berjalannya waktu, pada bulan keempat dan kelima, mulai dari lima ekor bebek berlanjut menjadi 10 ekor bebek, dan tambah lagi 100, 150 hingga 300 ekor bebek sekarang ini.

"Dari awal merintis usaha di Kebayoran Lama. Sampai sekarang belum pindah lokasi. Dulu masih dagang kaki lima, lalu sewa tempat hingga saat ini sudah punya sendiri," jelasnya.

Saat disinggung apa makna dari 'Bebek Goreng Pak Joko Putra', dia menerangkan bahwa 'Joko' itu adalah nama mertua laki-lakinya. Sementara itu, 'Putra' mengindikasikan suaminya. Sehingga, sederhananya rumah makan tersebut adalah bebek goreng punya anaknya pak Joko.

"Memang awalnya suami ikut bapaknya yang buka usaha sate, soto, dan gulai. Setelah itu, mulai berpikir lagi, mau buka usaha juga, tetapi masak sih sama jenis usahanya dan berjejer pula," ungkapnya.
Pengalaman jatuh bangun
Tetapi, bukan berarti kesuksesan yang diraihnya saat ini semudah membalikkan telapak tangan. Rupiah demi rupiah yang terus mengalir, mulai awalnya hanya mendapatkan omzet puluhan ribu hingga puluhan juta harus melewati banyak rintangan yang mengharuskannya bersama suami terus bekerja keras.
"Kenangan paling sudah waktu ada isu flu burung sekitar tahun 2005 di Indonesia. Usaha kami sempat sepi pengunjung, lama kelamaan orang mulai mengerti bahwa tak selamanya virus ini menjalar ke semua jenis unggas. Untuk menyakinkan pelanggan juga agak lama, sekitar dua hingga tiga bulanan. Tetapi, saya tetap jalani usahanya seperti biasa, karena nggak tahu lagi mau usaha apa. Pokoknya pantang menyerah saja," tuturnya dengan bijak.

Dia pun mengakui, dari awal hanya berdua dengan suami saja. Mereka harus belanja sendiri, mengolah sendiri sampai memasak dan melayani pelanggan berduaan dan itu terjadi selama kurang lebih tiga bulan.
Setelah itu, lanjutnya, baru ada tambahan tenaga, yaitu adiknya sebanyak dua orang. Dari situ, baru mencari karyawan lagi sebanyak dua orang, masing-masing pria dan wanita. Tak terasa, saat ini, jumlah karyawannya sudah menjadi 12 orang.
"Nggak pernah terbayang, bisa sebesar ini usahanya. Kadang kalau siang-siang kontrol datangi tempat usaha sempat bingung, saat lihat ada yang cuci piring, masak, dan lainnya. Jadi mikir, ini anak siapa kok ada di sini, ternyata mereka karyawan saya. Itu, karena memang saya syukuri bisa seperti ini, yang saya tak pernah membayangkan sebelumnya," ungkapnya.
Istimewanya, selain mampu menggapai impiannya dengan menunaikan ibadah haji bersama suami. Dari usahanya ini pula, dia bisa memberikan pendidikan terbaik buat kedua anak laki-lakinya.
Untuk diketahui, anak pertamanya, Bayu Afrianto baru lulus S1 (sarjana penuh) di Universitas Interstudi. Sementara itu, anak keduanya masih duduk di bangku SMP kelas 2. "Mas Sugeng (suaminya) dan saya memang hanya mengandalkan usaha ini.Alhamdulillah, semuanya bisa tercukupi," ungkapnya.
Ruqoiyah pun mengaku saat ini, dalam sehari bisa menghabiskan 100 ekor bebek, 50 ekor ayam dan 15 kilogram lele. Sedangkan, burung dara dan burung puyuh, masing-masing bisa menghabiskan sekitar 40-50 ekor dalam sehari.
Saat ditanyakan, apa yang menjadi kunci suksesnya selama ini, dia sambil tersenyum menjawab dengan singkat bahwa yang terpenting sebagai pengusaha jangan pernah menyerah dan tetap berdoa. Satu hal yang tak kalah penting lagi adalah selalu gembir

Tanggapan pelanggan
Malam itu, VIVA.co.id juga berkesempatan untuk mewawancari beberapa pelanggan. Eli, pelanggan yang sudah 10 tahun makan di tempat tersebut mengatakan bahwa bebeknya memang empuk dan rasanya paling gurih.

Menurut Eli, paling enak lagi adalah sambalnya, karena dia bisa pesan sesuai selera. "Jangan lupakan nasi uduknya. Nikmat, semuanya enak. Tetapi, bebek goreng favorit saya. Mengenai harganya relatif dari awal Rp7 ribu sekarang sudah Rp26 ribu. Tetapi wajar, karena sekarang semuanya sudah serba mahal," jelasnya yang datang bersama dengan suaminya.

Ada juga pelanggan setia lainnya. Yuni, yang merupakan salah satu pelanggan lama dan sudah 15 tahun makan di 'Bebek Goreng Pak Joko Putra' menyarankan supaya rasanya dipertahankan dan harganya kalau bisa jangan naik lagi.

"Biasanya kalau makan, saya barengan sama teman kantor, suami, dan keluarga. 15 tahun sudah makan di sini. Paling menggiurkan sambalnya dan pete goreng dibarengi dengan bebek goreng dan nasi uduknya. Pokoknya enak banget," tambahnya.
Bagi Anda yang penasaran dengan kelezatan dari menu-menu di rumah makan 'Bebek Goreng Pak Joko Putra' dapat langsung saja singgah. Jangan lupa, sambalnya bisa dipesan sesuai dengan selera.
Bebek Goreng Pak Joko Putra
Jl. Petogogan 2 No. 23 Blok A
Kebayoran Baru Jakarta Selatan
(asp)
(Sumber dari web viva.co.id)